skip to main | skip to sidebar

Senin, 12 Desember 2011

Dilema Kontrol Elektris Di Moto GP

advertisement

Dilema Kontrol Elektris Di Moto GP memang sangat berpengaruh saat ini bagi sang pembalapnya, ada yang setuju dan ada yang tidak, karena jika dianalisis memang banyak sekali pengaruhnya, bahkan pembalap sekaliber Valentino Rossi mengomentari adanya gangguan pada skil para pembalapnya, karena setelah sang pembalap turun di arena sirkuit, langsung saja dipandu oleh tim melalui kontrol elektris tadi jadi kesimpulannya, kemampuan skil indifidu sepenuhnya dari pembalap akan berkurang dengan adanya pantauan tim dari kontrol elektris tadi.

Sejak masuknya era motor 800cc, Valentino Rossi merasakan ada hal yang hilang dari pagelaran MotoGP, yaitu skill pembalap jadi kurang terasah. Pasalnya cukup banyak bantuan sistem elektronik pada motor, yang membuat pembalap tinggal menarik handle gas dalam-dalam, hal ini memang terlihat sukup kontras dengan balapan dibawah tahun 2006, dimana piranti elektronik pada motor masih dibatasi. Semua pembalap benar-benar terasah skillnya untuk bertarung. Banyak pembalap yang sliding jika tidak memperhitungkan bukaan gas saat menikung, karena tidak ada yang membantu untuk mengontrol besarnya traksi roda belakang.

“Saya rasa ini adalah masalah yang paling besar di MotoGP dan harus segera diselesaikan. Dulu orang ingin menonton MotoGP, karena memang ini menjadi ajang pembuktian para pembalap yang memiliki skill terbaik. Tapi ketika bantuan sistem elektronik mendominasi di era 800cc, MotoGP rasanya sudah seperti menonton F1 yang cukup membosankan,” kesal Rossi, dengan alasan inilah mengapa sang legenda MotoGP itu sangat berharap, agar pada musim 2012 mendatang, ketika Dilema Kontrol Elektris Di Moto GP regulasi yang baru digulirkan dengan kapasitas mesin motor kembali ke 1.000cc, FIM bisa meminimalisasi bantuan sistem elektronik di MotoGP.

“Saya harap tahun 2012 nanti piranti elektronik di minimalisir, termasuk anti wheelie, dan anti sliding. Orang-orang justru ingin melihat motor-motor itu melakukan wheelie, dan sliding di beberapa areal. Karena kalau pembalap sudah tidak bisa melakukan hal yang sesuai keinginannya, lalu apa bedanya MotoGP dengan mainan mobil remote control?” imbuh Rossi lagi, hmm, ada benarnya juga, mengingat MotoGP adalah kelas tertinggi di dunia balap. Seharusnya yang masuk di MotoGP adalah para pembalap yang sudah khatam dengan motor tanpa bantuan alat elektronik yang berlebihan. Apakah usul Rossi yang satu ini bakal didengarkan oleh FIM dan DORNA? Kita tunggu saja nanti.

Belakangan ini, pembahasan kontrol elektris yang terlalu berpengaruh di MotoGP diklaim beberapa pihak membuat pembalap jadi lebih manja. Tapi di sisi lain, FIM (Fédération Internationale de Motocyclisme) sebagai lembaga tertinggi yang membawahi MotoGP, tidak ingin berkompromi dengan hal-hal yang berkaitan dengan sistem pengamanan pembalap. Makanya FIM tetap menggunakan kontrol elektronis di MotoGP, menyikapi banyaknya Dilema Kontrol Elektris Di Moto GP dan  perbedaan pendapat tentang sistem kelistrikan, Kevin Schwantz angkat bicara tentang hal ini. Mantan pembalap MotoGP yang berjaya pada tahun 1993 itu pun merasa bahwa peran sistem elektronis di MotoGP jadi dilema tersendiri.

“Kontrol traksi, tidak ada yang pernah meragukan hal ini akan membuat karir seorang pembalap jadi panjang. Sebab peristiwa dengan adanya peranti tersebut membuat motor-motor jadi lebih mudah dikendarai. Ada bagusnya juga, jika dilihat dari sisi kompetisi. Saya hanya ingin melihat pembalap beradu dengan ban belakang mengeluarkan asap, dan tanpa bantuan sistem elektronik berlebihan,” papar Schwantz.

“Tapi dari sisi safety pembalap, tenaga lebih 250 daya kuda memang harusnya memiliki segala teknologi terkini dari manufaktur di MotoGP. Tapi sayang teknologi terkini itu sekarang menjadi Dilema Kontrol Elektris Di Moto GP, justru mengarah ke kontrol traksi. Bayangkan saja, 10 tahun lalu sistem ABS (Anti-Lock Braking System) masih asing. Tapi sekarang 90 persen mobil baru sudah punya sistem ABS. Jadi lebih baik membiarkan manufaktur melakukan pengembangan lebih baik,” lanjut Schwantz.

Selain kontrol traksi, tip dan trik pembalap uga berkurang oleh adanya karakter ban yang terlalu sempurna dari awal hingga akhir balapan, dituding sebagai penyebab. Dimana pembalap tidak akan mengendurkan gasnya karena mereka menganggap kondisi ban tetap berada dalam kondisi terbaik. Sementara pembalap jaman dulu, sudah harus berhati-hati saat pertengahan balapan hingga ke garis finish.

Dilema Kontrol Elektris Di Moto GP dan perdebatan kontrol traksi dan ban memang bukan hal yang gampang untuk saat ini. Sepertinya FIM, Dorna dan semua jajaran terkait termasuk manufaktur dan pembalap berembug lebih dalam. Agar MotoGP tetap nyaman untuk ditonton, tapi tetap menghadirkan kompetisi yang kuat.

0 komentar:

Poskan Komentar