skip to main | skip to sidebar

Senin, 26 Desember 2011

I Love Marco, Marco Simoncelli Pernah Jadi Model

advertisement

I Love Marco "Marco Simoncelli Pernah Jadi Model", ternyata Marco Simoncelli semasa hidupnya pernah jadi model. Selain prestasinya yang gemilang, postur tubuhnya yang tinggi dan atletis serta muka yang lumayan digemari wanita jadi modal utama, tahun 2010 silam, pabrikan jeans asal Italia, Rifle menggandeng San Carlo Honda Gresini dan pembalapnya jadi brand ambassador. Akhirnya MArco Simoncelli pun jadi model dadakan.

Tapi gayanya boleh lah! Enggak kalah dari model profesional. Sesuai dengan karakter liar Simoncelli, background foto-fotonya juga disetting di sebuah bengkel Modifikasi dengan sepeda motor. Dari pada penasaran, nikmati saja foto-fotonya, "kami sangat senang bergabung dengan Tim San Carlo Honda Gresini dan menemani petualangan besar Marco di MotoGP," ungkap Veronika Jans, external press relations manager for Super Rifle SpA kala itu.

Sayangnya, I Love Marco "Marco Simoncelli Pernah Jadi Model" yang begitu fenomenal selama karir balapnya ini harus mengakhiri karir balap dan hidupnya di balap MotoGP Sepang (23/10), kepergian Marco Simoncelli, pembalap muda bertalenta di ajang MotoGP memang meninggalkan duka dan rindu yang mendalam bagi para fansnya.

Tak heran bila diprediksi barang-barang dengan identitas "Super Sic" bakal jadi buruan para fans. Salah satunya adalah helm AGV GP Tech Marco Simoncelli replica seperti yang dijajakan Juragan Helm, grafis helm ini dibuat persis dengan yang digunakan Super Sic saat membalap. Helm buatan Italia ini memiliki cangkang dengan teknologi SSL (Super-Super-Light).

Lapisan dalam helmnya dibekali fabric cool max dan memiliki busa yang bisa dilepas sehingga memudahkan ketika hendak dicuci. Visor beningnya juga sudah anti gores dan anti kabut, secara spesifikasi helm ini sebenarnya sama juga dengan yang AGV I Love Marco "Marco Simoncelli Pernah Jadi Model" Replica namun hanya berbeda motif. "Kita jual Rp 6,8 juta," ungkap Agus Hermawan dari Juragan Helm.

"Tapi sekarang barangnya agak sulit dicari, karena jarang," ungkapnya dari toko baru di Jl Panjang Raya no 20, Arteri Kelapa Dua, Jakarta Barat. Wah bakal jadi collector item nih, Penggemar alias fans kadang sangat tidak terduga. Di antara mereka dan idolanya terjalin hubungan batin yang lumayan dalam. Tidak cuma hafal biografi dan sepak terjang idolanya, mereka juga berdandan layaknya bintang pujaannya.

Di beberapa daerah, komunitas berbasis fans menyerupai tribute untuk idolanya I Love Marco "Marco Simoncelli Pernah Jadi Model". Motor mereka dandani layaknya motor yang dipakai sang idola. Di dunia MotoGP, ambil contoh komunitas Tribute To Racer yang dikomandoi H. Aep Ciamis, “di komunitas ini kami punya idola berbeda. Ada yang suka Valentino Rossi, almarhun Marco Simoncelli, Jorge Lorenzo dan masih banyak lagi lainnya,” buka Aep.

Kalau nonton bareng, mereka patungan sewa layar besar untuk gelar acara ini. Semua bersaing mengunggulkan idolanya. Di depan tempat tongkrongan, motor mereka juga didandani persis tunggangan balap lengkap dengan logo sponsor, dengan warna semirip mungkin, fanatisme ke pembalap ini tidak menghiraukan kendaraan yang digunakannya. “Nggak peduli motor kami Honda misalnya, tapi mengidolakan Rossi, motor jadi merek Ducati,” kekeh Aep lebih lanjut.

”Suasana saat nonton bareng jadi tegang dan sangat antusias menjagoan pembalap kesayangannya I Love Marco "Marco Simoncelli Pernah Jadi Model". Kadang suasana jadi tegang dan panas juga. Sama-sama membela pembalap yang menjadi idola masing-masing,” kekeh teman-temannya, makin unik lagi, saat terjadi musibah seperti tewasnya pembalap Simoncelli, mereka sepakat berkumpul untuk melakukan shalat gaib bagi almarhum. “Kami merasa sangat dekat dan ingin mendoakannya. Walaupun berbeda keyakinan,” jelas H. Aep dengan nada sedih.
 
Teman-teman di Jogja Two Fifty (JTF) punya cerita lain. Dengan sempklakan utama Kawasaki Ninja 250R, mereka menelorkan virus MotoGP di tunggangan masing-masing. Bukan hanya motor, mereka juga menyamakan baju balap idola dengan jaket turing mereka, “Ya bagaimana lagi, Bro! tampilan motor kita sudah seperti rider MotoGP, mosok pakaian kita biasa aja. Kan nggak matching! Seperti saya ini pakai pakaian Playboy ala Randy De Puniet, sebab koncep motor saya juga bercorak demikian. Kan kalau dilihat jadi asyik!” kilah Eriyanto dari JTF.

Bawaan motor sudah sporty, pakaian juga sudah mendukung, bahkan terkadang ada kalanya mereka juga mau bergaya ala pembalap jalanan. Untuk itu, acara ‘mengukur’ spidometer bersama di jalanan juga kerap mereka lakukan hanya sekadar untuk I Love Marco "Marco Simoncelli Pernah Jadi Model" refreshing, “Tapi tetap mengandalkan faktor dan unsur safety riding juga, Bro. Sebelumnya, kita lihat atau survey dulu jalur yang mau dipakai ngebut. Nggak asal ngegas aja,” cetus Eriyanto.

0 komentar:

Poskan Komentar